Khutbah Idul Adha di Mesjid UI: Ujian Terberat Adalah Ujian Para Nabi

mui (640x426)

Depokpos (24/9) – “Tidaklah cukup seseorang hanya mengatakan dirinya beriman dan belum pernah lolos ujian. Orang dapat dikatakan beriman, jika ketika mendapat cobaan, ia dapat mengatasi ujian tersebut dan tetap teguh dalam keimanannya. Cobaan terhadap keimanan seseorang merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan ini.”

Demikian pesan khutbah Idul Adha 1436 H di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia, Depok, Kamis (24/9) pagi, yang disampaikan oleh DR. H. Muhammad Luthfi, Ketua Badan Pelaksana Pengurus Masjid Ukhuwah Islamiyah.

Lanjut Khatib, memang benar, Allah mengetahui hati manusia tanpa mengujinya, tapi ujian yang diberikan Allah pada manusia merupakan suatu bentuk keadilan dan pendidikan bagi manusia yang lain. “Ujian yang datang dari Allah itu berbeda-beda tingkatannya. Semakin tebal iman seseorang, semakin berat ujian yang ditempanya.

BACA JUGA:  Bela Negara Jadi Rekomendasi Utama yang Dihasilkan Halaqoh Nasional

“Ujian yang terberat adalah ujian para nabi, kemudian ujian orang-orang soleh dan seterusnya. Seseorang diuji sesuai dengan tingkat keimanannya. Makin kokoh imannya, makin berat pula ujiannya,” kata Khotib mengutip sebuah hadits Nabi SAW.

Dikatakan Khatib, ujian yang diberikan oleh Allah pada Nabi Ibrahim sangat berat sekali. Sekian lama beliau berjuang untuk menegakkan agama Allah, ia berdoa agar diberikan keturunan yang shaleh dapat meneruskan perjuangannya. Lalu mengabulkan doanya dalam waktu yang lama. Setelah diberi keturunan anak, Nabi Ismail, Allah kembali mengujinya, dan memerintahkan untuk menyembeli anak satu-satunya itu.

BACA JUGA:  Ini Kondisi Pensiunan PNS yang Tinggal di "Kandang Kambing"

“Ketika itu, Ibrahim diperintahkan menyembelih puteranya dengan tangannya sendiri. Padahal Ismail adalah putera yang sangat disayanginya. Namun, ujian berat itu diterima dengan penuh kesabaran. Inilah keteguhan iman Nabi Ibrahim ketika mendapat cobaan yang berat.”

Tingginya keimanan Nabi Ibrahim tercermin pada anaknya, Ismail, ketika mendapat kabar bahwa Allah memerintahkan ayahnya untuk menyembelih dirinya. Ismail menjawan dengan penuh keikhlasan tanpa sedikitpun kehilangan rasa hormat pada ayahnya Ibrahim.

“Cobaan bukan siksaan. Allah menguji umat-Nya bukan bertujuan menyiksanya, melainkan untuk mengetahui sejauhmana keteguhan imannya. Akhirnya Ibrahim dan Ismail as, lulus ujian, tak sampai melakukan penyembelihan pada putranya. Allah menggantinya dengan kibas yang bagus dan besar. Allah mengucapkan selamat kepada Ibrahim as, dan terbukti Ibrahim dan Ismial adalah seorang yang beriman sejati dan menjadi teladan bagi umat Islam.”

BACA JUGA:  Scie-Cent IsEF SEBI Gelar Kajian “Edukasi Fintech"

Khatib berpesan, marilah kita hadapi cobaan-cobaan yang ada di dunia dengan penuh kesabaran, keteguhan, dan ketenangan . Hendaknya kita mendekatkan diri kepada Allah, dan memohon agar bertahan dari cobaan hidup yang berat sekalipun. (Desastian)

Komentar

komentar