Greenpeace Indonesia: 90% Stok Ikan Dunia Dikuras Berlebihan

Putri Indonesia Lingkungan 2015 Cynthia Fabiola berbagi pentingnya edukasi lingkungan pada masyarakat. (foto Greenpeace Indonesia)
Putri Indonesia Lingkungan 2015 Cynthia Fabiola berbagi pentingnya edukasi lingkungan pada masyarakat. (foto Greenpeace Indonesia)

Depokpos (20/9) –  Greenpeace Indonesia menyelenggarakan Festival Laut guna meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya perikanan berkelanjutan demi masa depan dan kesehatan laut dunia.

Afif Saputra, Penanggung Jawab Festival Laut, mengungkapkan festival ini diadakan untuk membawa isu-isu kelautan ke tengah masyarakat urban dan meningkatkan kesadaran bahwa laut merupakan bagian penting dari kehidupan, termasuk juga dalam kehidupan perkotaan. Terlebih lagi Kota Jakarta yang memiliki populasi lebih dari 10 juta jiwa berpotensi menjadi salah satu basis konsumen makanan laut terbesar di Indonesia. Oleh karena itu menjadi penting bagi masyarakat Jakarta untuk memilih sumber pangan laut dengan hati-hati.

Apalagi saat ini hampir 90% stok ikan di lautan dunia telah dikuras berlebihan akibat cara penangkapan ikan yang merusak dan tidak berkelanjutan. Cara penangkapan tersebut juga memicu kerusakan terumbu karang, bahkan bulan lalu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan 70% terumbu karang di Indonesia dalam kondisi rusak.

BACA JUGA:  Milad ke-1, Jawara Betawi Gelar Tasyakuran

“Persoalan laut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memilih dengan tepat sumber pangan dari lautan turut menentukan masa depan laut. Untuk itu masyarakat perlu memahami dari mana makanan laut yang kita konsumsi berasal, apakah berasal dari perikanan berbasis alat tangkap jaring menggunakan rumpon yang dapat menghancurkan stok ikan di laut, atau dari perikanan bertanggung jawab,” tegas Afif di tengah perhelatan Festival Laut di Taman Kridaloka, Jakarta (19/9).

Nelayan kita mengenal berbagai cara tangkap ikan yang lebih bertanggung-jawab seperti misalnya huhate yang juga dikenal dengan nama pole and line yang terdiri dari bambu sebagai joran atau tongkat dan rangkaian tali pancing dan kail. Cara penangkapan huhate dapat dijumpai di Sulawasi Utara, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sementara rumpon atau Fish Aggregating Devices (FADs) adalah objek terapung yang digunakan untuk menarik berbagai macam ikan, terkadang mencapai hingga 300 jenis, termasuk kelompok pelagis seperti tuna, marlin, dan mahi-mahi. Rumpon berbahaya karena penggunaan jaring di sekitarnya membuat penangkapan tidak selektif, mengangkut segala jenis ikan sehingga berpotensi mengganggu stok ikan di lautan.

BACA JUGA:  1.550 Pramuka Putri se-Indonesia Ikuti Perkemahan Nasional Pertengahan November

Festival Laut mengedepankan konsep edukasi bagi seluruh anggota keluarga, oleh sebab itu para pengisi acara juga begitu beragam. Putri Indonesia Lingkungan, Kak Seto, dan Winson The Story Teller Family akan berbagi panggung utama. Selain itu Chef Andrian juga akan menampilkan demo masak dengan menggunakan bahan yang ramah laut.Tak lupa juga, sederet band indie seperti White Shoes & The Couples Company, Stars & Rabbit, Abdul & The Coffee Theory, serta Brianna Simorangkir juga turut meramaikan Festival Laut.

BACA JUGA:  Bela Negara Jadi Rekomendasi Utama yang Dihasilkan Halaqoh Nasional

Komentar

komentar