Green Qurban, Ibadah Qurban dan Pohon Sejuta Harapan

Green Qurban
Green Qurban

Negara-negara beriklim tropis kehilangan tutupan pohon (tree cover) seluas 10 juta hektar pada 2014 atau setara dengan luas wilayah Korea Selatan. Hal ini terungkap dari data satelit yang dirilis oleh Global Forest Watch (GFW), Selasa, 1 September 2015. Dalam skala global, dunia kehilangan 18 juta hektar tutupan pohon atau dua kali luas wilayah Portugal pada 2014. Sementara Indonesia dan Brasil menyumbang 38% kehilangan tutupan lahan di negara tropis. (hijauku.com)

Sepenggal fakta yang membuat dahi berkernyit, sembari mengurut dada, dan lalu geleng-geleng kepala. Ohh, ternyata, sudah sedemikian rupa kondisi bumi kita. Bagaimana hari depan generasi, jika tak ada langkah nyata untuk memperbaiki. Besar kecil tak mesti menjadi soal. Besar jika belaka mimpi di terik siang, tak ada gunanya berpanjang-panjang. Kecil, tapi istiqomah dijalankan, maka akan berbuah sesuatu yang berarti untuk pijakan langkah-langkah kebaikan ke depan.

Maka, Jelang Idul Adha 1436 H, Green Kurban kembali menyapa kita. Sebuah inovasi program Kurban Plus Penghijauan, dimana dari satu hewan yang Anda kurbankan, turut ditanam satu pohon sebagai ikhtiar hijaukan bumi.

Green Kurban resmi diusung di tahun 2013 lalu, sebagai gagasan baru di ranah pengelolaan Kurban yang telah dimulai sejak tahun 2002.

BACA JUGA:  Bela Negara Jadi Rekomendasi Utama yang Dihasilkan Halaqoh Nasional

“Total kepedulian yang dihimpun sampai dengan tahun 2014 lalu mencapai 12.829 hewan kurban (setara kambing/domba), dengan akumulasi penerima manfaat mencapai satu juta warga miskin, terpencil, rawan gizi dan wilayah minus lainnya di negeri ini. Bahkan hingga melintas ke negeri jiran, wilayah minoritas muslim di Pattani (Thailand), dan Kamboja,” Ungkap Direktur Fundraising Sinergi Foundation, Asep Irawan dalam rilis tertulisnya.

Masih menurut Asep, dalam kurun waktu 2013-2014 sendiri, Green Kurban telah menanam sejumlah 17.600 bibit pohon melalui pola kemitraan, dengan skala prioritas di wilayah pesantren, sebagai sentra dakwah di pelbagai pelosok negeri.

Di Pondok Pesantren Salafiyah Miftahul Ridwan, Kasomalang – Subang, misalnya, 1000 pohon buah sudah disemai di tanah kosong, milik pesantren. Kyai Sofyan, sang pengasuh pondok begitu antusias dengan program ini. Ia tak sekadar menunaikan amanahnya untuk menanamkan seribu pohon tersebut di lahan kosong, melainkan mengedukasi santri akan hikmah menanam pohon tersebut.

“Saya umpamakan santri itu seperti benih. Ia dirawat sedemikian rupa, diberikan asupan pemahaman yang benar. Kelak, santri itu harus bisa bertahan saat ditanam di lahan yang masih kosong sekalipun,” ungkap Kyai Sofyan.

Kyai Sofyan menambahkan, bahwa pohon yang ditanam di pesantrennya adalah jenis pohon buah: jambu air dan jambu batu. Beberapa sudah ada yang berbuah. Walaupun belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Namun, bukan perkara memetik buahnya yang menjadi fokus dari Kyai Sofyan. Melainkan, hikmah apa yang dapat dipetik para santri saat menanam dan menjaga pohon tersebut.

BACA JUGA:  30 Tahun Kampus UI Depok, Merawat Persatuan dalam Kebhinekaan

“Jiwa ketakwaan itu, bisa diraih bila hatinya tidak tergantung dan menggantungkan pada dunia. Tidak berharap kepada selain Allah. Dan bagaimana mungkin jiwa ketakwaan itu bisa diraih manakala seseorang masih mengharap belas kasih dari manusia? Mengharap apa yang telah ia perbuat, harus ada balas jasanya?” terangnya.

Seribu pohon produktif itu ditanam di areal tanah pesantren seluas hampir satu hektar. Sebanyak 670 pohon ditanam di lingkungan pesantren dan sekira 300-an diberikan kepada pesantren cabang Miftahur Ridwan yang ada di Cijere-Subang. Sisanya ia bagikan ke masyarakat setempat, kurang lebih ke 25 kepala keluarga. Dengan syarat, lahan yang ditanam itu tidak akan diganggu gugat oleh pembangunan.

Kyai Sofyan memprediksikan bila pohon-pohon yang ditanam di pesantren sesuai dengan harapan, maka buah yang dipetik bisa mencapai satu ton. Dan itu benar-benar sangat membantu kondisi finansial pesantren, yang saat ini hanya bertopang pada 150 ribu untuk membayar beban keseharian santri.

BACA JUGA:  Peduli Budaya Literasi Anak, Tugu Mandiri Donasikan CSR ke Taman Bacaan

Pelbagai upaya pun dikerahkan demi mendapatkan hasil yang maksimal. Semisal tiap seminggu mengontrol dan mencabuti rumput liar. Atau sepertiga bulan sekali memberi pupuk kandang. Semuanya dilakukan santri mudanya. Bagi Kyai Sofyan sebetulnya ia sedang memberikan pelajaran tanggung jawab dan memelihara kepercayaan.

Doa Pengharapan

Direktur Fundraising Sinergi Foundation, Asep Irawan mengatakan, bahwa menanam pohon kini tampak biasa. “Dampaknya, memang tak akan langsung terasa. Butuh waktu cukup, untuk menuai hasilnya. Boleh jadi nanti di era generasi pelanjut cita-cita, pohon itu kelak akan terasa manfaatnya. Maka yakinkan, dengan doa dan sejuta harapan, benih pohon yang sekarang ditanam, kelak akan menjadi warisan tak terperi bagi semesta, pun anak-cucu kita
nanti,” katanya.

Green Kurban sendiri, menurut Asep, hanyalah bentuk Ikhtiar kecil, yang diharapkan dapat mendorong dan menginspirasi gerakan kolektif yang lebih besar, lestarikan alam raya.

“Karenanya kami mengajak seluruh kaum Muslimin untuk bergabung bersama ribuan pekurban lainnya dalam program Green Kurban. Dengan demikian, Ibadah Kurban bukan hanya sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang direfleksikan dengan hewan sembelihan. Namun, juga menyentuh aspek pelestarian lingkungan.” pungkas Asep.

Komentar

komentar