Dua Tahun Berkiprah, Green Kurban Tanam 17.600 Bibit Pohon

…Green Kurban telah menanam sejumlah 17.600 bibit pohon melalui pola kemitraan, dengan skala prioritas di wilayah pesantren, sebagai sentra dakwah di pelbagai pelosok negeri.

Green Qurban.
Green Kurban.

Depokpos (21/9) – Jelang Idul Adha 1436 H (2015), Green Kurban – Sinergi Foundation kembali menyapa kita. Sebuah inovasi program Kurban Plus Penghijauan, dimana dari satu hewan yang Anda kurbankan, turut ditanam satu pohon sebagai ikhtiar hijaukan bumi.

Asep Irawan, Direktur Program Sinergi Foundation, mengatakan bahwa dalam kurun waktu 2013-2014, Green Kurban telah menanam sejumlah 17.600 bibit pohon melalui pola kemitraan, dengan skala prioritas di wilayah pesantren, sebagai sentra dakwah di pelbagai pelosok negeri.

”Sejumlah 17.600 bibit pohon yang kami tanam, merupakan buah sinergis masyarakat peduli melalui program Green Kurban dan Program Sedekah Pohon Produktif, yang juga digagas Sinergi Foundation,” Ungkap Asep Irawan.

Asep menambahkan, bahwa total kepedulian yang dihimpun sampai dengan tahun 2014 lalu mencapai 12.829 hewan kurban (setara kambing/domba), dengan akumulasi penerima manfaat mencapai satu juta warga miskin, terpencil, rawan gizi dan wilayah minus lainnya di negeri ini. “Bahkan hingga melintas ke negeri jiran, wilayah minoritas muslim di Pattani (Thailand), dan Kamboja,” tambah Asep.

BACA JUGA:  Tak Pandang Usia, Para Murid Perguruan Islam Al Syukro Universal Bantu Rohingya

Di Pondok Pesantren Salafiyah Miftahul Ridwan, Kasomalang – Subang, misalnya. Seribu pohon buah sudah disemai di tanah kosong, milik pesantren. Kyai Sofyan, sang pengasuh pondok begitu antusias dengan program ini. Ia tak sekadar menunaikan amanahnya untuk menanamkan seribu pohon tersebut di lahan kosong, melainkan mengedukasi santri akan hikmah menanam pohon tersebut.

“Saya umpamakan santri itu seperti benih. Ia dirawat sedemikian rupa, diberikan asupan pemahaman yang benar. Kelak, santri itu harus bisa bertahan saat ditanam di lahan yang masih kosong sekalipun,” ungkap Kyai Sofyan.

Kyai Sofyan menambahkan, bahwa pohon yang ditanam di pesantrennya adalah jenis pohon buah: jambu air dan jambu batu. Beberapa sudah ada yang berbuah. Walaupun belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Namun, bukan perkara memetik buahnya yang menjadi fokus dari Kyai Sofyan. Melainkan, hikmah apa yang dapat dipetik para santri saat menanam dan menjaga pohon tersebut.

BACA JUGA:  Gelora Literasi 500 Siswa Sekolah di Bumi Sangkabulan

“Jiwa ketakwaan itu, bisa diraih bila hatinya tidak tergantung dan menggantungkan pada dunia. Tidak berharap kepada selain Allah. Dan bagaimana mungkin jiwa ketakwaan itu bisa diraih manakala seseorang masih mengharap belas kasih dari manusia? Mengharap apa yang telah ia perbuat, harus ada balas jasanya?” terangnya.

Seribu pohon produktif itu ditanam di areal tanah pesantren seluas hampir satu hektar. Sebanyak 670 pohon ditanam di lingkungan pesantren dan sekira 300-an diberikan kepada pesantren cabang Miftahur Ridwan yang ada di Cijere-Subang. Sisanya ia bagikan ke masyarakat setempat, kurang lebih ke 25 kepala keluarga. Dengan syarat, lahan yang ditanam itu tidak akan diganggu gugat oleh pembangunan.

Kyai Sofyan memprediksikan bila pohon-pohon yang ditanam di pesantren sesuai dengan harapan, maka buah yang dipetik bisa mencapai satu ton. Dan itu benar-benar sangat membantu kondisi finansial pesantren, yang saat ini hanya bertopang pada 150 ribu untuk membayar beban keseharian santri.

Pelbagai upaya pun dikerahkan demi mendapatkan hasil yang maksimal. Semisal tiap seminggu mengontrol dan mencabuti rumput liar. Atau sepertiga bulan sekali memberi pupuk kandang. Semuanya dilakukan santri mudanya. Bagi Kyai Sofyan sebetulnya ia sedang memberikan pelajaran tanggung jawab dan memelihara kepercayaan.

BACA JUGA:  Tak Pandang Usia, Para Murid Perguruan Islam Al Syukro Universal Bantu Rohingya

Doa Pengharapan

Direktur Fundraising Sinergi Foundation, Asep Irawan mengatakan, bahwa menanam pohon kini tampak biasa. “Dampaknya, memang tak akan langsung terasa. Butuh waktu cukup, untuk menuai hasilnya. Boleh jadi nanti di era generasi pelanjut cita-cita, pohon itu kelak akan terasa manfaatnya. Maka yakinkan, dengan doa dan sejuta harapan, benih pohon yang sekarang  ditanam, kelak akan menjadi warisan tak terperi bagi semesta, pun anak-cucu kita nanti,” katanya.

Green Kurban sendiri, menurut Asep, hanyalah bentuk Ikhtiar kecil, yang diharapkan dapat mendorong dan menginspirasi gerakan kolektif yang lebih besar, lestarikan alam raya.
“Karenanya kami mengajak seluruh kaum Muslimin untuk bergabung bersama ribuan pekurban lainnya dalam program Green Kurban. Dengan demikian, Ibadah Kurban bukan hanya sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang direfleksikan dengan hewan sembelihan. Namun, juga menyentuh aspek pelestarian lingkungan.” pungkas Asep.

Komentar

komentar