Jelang Muktamar Muhammadiyah, CDCC Luncurkan 2 Buku Baru

Dari kanan: Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Menteri Peindustrian Saleh Husin, musisi Dwiki Dharmawan, Direktur Eksekutif Rizal Sukma, Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Ketua PWM Sulawesi Selatan Muh Alwi Uddin (terhalang) dan Direktur Eksekutif CDCC Alpha Amirrachman
Dari kanan: Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Menteri Peindustrian Saleh Husin, musisi Dwiki Dharmawan, Direktur Eksekutif Rizal Sukma, Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Ketua PWM Sulawesi Selatan Muh Alwi Uddin (terhalang) dan Direktur Eksekutif CDCC Alpha Amirrachman

Depokpos, Nasional – Sehari jelang Muktamar Muhammadiyah ke-47, Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), menerbitkan dan meluncurkan dua buah buku Kiprah Pencerahan: Karya Unggulan Muhammadiyah 2005-2015 dan Islam Berkemajuan untuk Indonesia Berkemajuan: Agenda Muhammadiyah ke Depan di Restauran Pualam, Makasar (2/7).

Beberapa buku yang lain terutama seputar isu ekonomi diterbitkan dan diluncurkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ahmad Dahlan Gerakan Ekonomi Berkemajuan dan Blue Print Gerakan Ekonomi dan Bisnis Muhammadiyah di tempat yang sama.

Direktur CDCC Alpha Amirrachman yang juga bertindak sebagai moderator mengatakan buku-buku tersebut ditujukan bukan saja untuk para muktamirin yang sedang bertmuktamar, namun juga khalayak umum.

“Ini menandakan tradisi intelektual Muhammadiyah,” ujarnya, “agar publik paham mengenai perdebatan isu-isu kebangsaan yang ada di Muhammadiyah dan dapat memberikan respon terhadapnya.”

“Buku-buku tersebut ditulis oleh para intelektual muda Muhammadiyah yang begitu peduli dan mencintai Muhammadiyah,” tambah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam pengantarnya di hadapan lebih dari seratusan hadirin.

BACA JUGA:  Tak Pandang Usia, Para Murid Perguruan Islam Al Syukro Universal Bantu Rohingya

Ia menambahkan bahwa peran Muhammadiyah dalam memberikan kontribusinya pada negara, bangsa dan kemanusiaan tidak pernah lepas dari peran para intelektualnya.

Pakar studi Islam Muhammad Ali dari University of California, Riverside, AS, dalam pembahasannya menguraikan kenapa Muhammadiyah menggunakan frase Islam Berkemajuan karena berusaha meluruskan apa yang selama ini ditafsirkan secara kurang tepat sehingga menjadi Islam yang tidak berkemajuan.

“Berkemajuan juga menunjukkan proses yang dinamis untuk terus maju,” ujarnya merujuk pada buku Islam Berkemajuan untuk Indonesia Berkemajuan: Agenda Muhammadiyah ke Depan.

Muhamad Ali menambahkan bahwa seringkali peradaban Islam dilihat berseberangan dengan peradaban Barat. “Padahal tidak ada peradaban yang tunggal, ia selalu merupakan perpaduan dari apa yang sudah ada,” ujarnya.

Rahmawati Husein, Wakil Direktur Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) mengatakan bahwa Muhammadiyah berusaha menerjemahkan prinsip-prinsip teologis menjadi sesutau yang praksis yang melampaui batas-batas yang konservatif.

BACA JUGA:  Gelora Literasi 500 Siswa Sekolah di Bumi Sangkabulan

“Sehingga kerja kemanusiaan Muhammadiyah selalu melibatkan mereka yang non-Muslim,” ujarnya merujuk kepada gempa di Nepal di mana MDMC terlibat dan dalam kerja-kerja kemausiaan lainnya.

“Ini upaya nyata Muhammadiyah dalam memberikan kontribusi kepada kemanusiaan global,” ujarnya.

Ia menambahkan Muhammadiyah adalah satu-satunya faith-based organization (organisasi berbasis agama) yang besar yang terlibat dalam kerja kemanusiaan ini dan diharapkan dapat menjadi role model bagi yang organisasi-organisasi keagaman yang lain.

Sementara Nazaruddin Malik yang juga Ketua Forum Dekan Fakuktas Ekonomi Perguran-perguruan Tinggi Muhammadiyah menemukan fakta bahwa sikap entrepreneurial belum begitu bersenyawa dengan perilaku warga Muhammadiyah.

“Perlu ditekankan bahwa budaya bisnis adalah juga bagian dari perilaku keagamaan Muhammadiyah.  Dan ke depan diharapkan Muhammadiyah memiliki respon yang lebih menonjol dalam menyikapi isu-isu ekonomi kebangsaan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa kita harus bisa membedakan antara “pengusaha” Muhammadiyah dan “usaha” Muhammadiyah.

“Pengusaha merujuk pada individual, sementara yang terakhir pada organisasi, yang terakhir ini yang perlu ditingkatkan apalagi Muhammadiyah memiliki amal usaha yang sangat besar dan menyebar di seluruh Indonesia,” ujarnya.

BACA JUGA:  Gelora Literasi 500 Siswa Sekolah di Bumi Sangkabulan

Alpha menambahkan bahwa buku-buku yang diluncurkan ini cukup lengkap memotret dan melakukan refleksi terhadap apa-apa yang yang sudah ditempuh oleh Muhammadiyah di bahwa kepemimpinan Din Syamsuddin selama dua periode dan juga berusaha untuk memperoyeksikan agenda-agenda apa saja yang perlu dilakukan oleh pemimpin baru terpilih ke depan nanti.

“Dialog antar agama dan antar peradaban yang dirintis Din Syamsuddin juga perlu dilanjutkan, ini melengkapi kerja kemanusiaan global yang merupalan soft diplomacy sebagai wujud peran dan kontribusi Muhammadiyah dalam perdamaian dunia, “ ujarnya Alpha merujuk pada peran Din Syamsuddin sebagai President of Asian Conference of Religions for Peace (ACRP).

“Kita mengharapkan para muktamirin dapat berpikir jernih dan berorientsi ke dapan dalam memilih pemimpin baru nanti,” pungkasnya.

Komentar

komentar