Merasa Ditipu, Puluhan Orang Datangi Penyelenggara Umroh Murah di Sukmajaya

Ilustrasi keberangkatan Umroh
Ilustrasi keberangkatan Umroh

Merasa ditipu, sejumlah perwakilan korban jamaah umroh asal Karawang, Jawa Barat, mendatangi rumah satu pimpinan travel umroh di Perumahan Taman Cipayung, Sukmajaya, Kota Depok, Senin (22/6) siang.

Pimpinan penyelenggara rombongan umroh dari Pondok Pesantren Al-Ghuroba, Karawang, H. Nawawi bersama perwakilan jemaah menjadi korban mendatangi rumah DSH, 51, Direktur Utama PT. PHS, untuk memintai pertanggung jawaban pihak travel penyelenggara umroh jamaahnya.

Menurut Haji Nawawi, sebanyak 58 jemaah yang dibimbingnya tersebut menjadi korban penipuan. Ia meminta pertanggung jawaban pelaku atas perbuatan penipuan yang dilakukan.

“Berbagai alasan mulai dari pesawat umroh yang tidak ada ijin, sampai tidak ada bangku. Seharusnya berangkat pada 15 Februari 2015 kemarin tidak jadi berangkat,”ujarnya kepada di lokasi.

Ulama kamtibmas Polres Karawang, Jawa Barat ini mengungkapkan, semenjak 2013 pondok pesantren yang dipimpinnya sudah bekerjasama dengan perusahan travel PT PHS.

“Pelaku menawari langsung perjalanan umroh ke kita lebih murah. Biaya perorang Rp15,5 juta untuk umroh tawaruh (umroh murah). Pelaku mengiming-imingi harga itu sudah termasuk gratis Rp.1 juta untuk infak pesantren,”katanya.

Haji Nawawi menambahkan dari kasus ini dirinya selalu dikejar para jamaah untuk mempertanggung jawabkan. “Yang tahu jamaah ke saya, padahal saya juga korban juga. Sudah dipojokan untuk menjual rumah sebagai ganti rugi. Padahal sebelumnya pelaku sudah membuat perjanjian untuk mengembalikan uang jemaah Rp853 juta. Namun setelah itu pelaku kabur dan susah dihubungin,”tambahnya seraya menyebutkan satu lagi travel milik pelaku ada daerah Ciracas, Jakarta Timur.

“Informasi yang saya terima ternyata korbannya tidak hanya dari pondok pesantren saya saja. Tapi masih 150 korban lain berasal Karawang, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Indramayu. Kasus penipuan ini sudah kami laporkan ke Polres Karawang.”

Ketua RW 27, Bambang Junaidi, mengatakan rumah yang baru dibeli seharga Rp700 juta pada delapan bulan yang lalu dikenal keluarga pelaku tidak bersosialisasi. “Rumah hanya ditempati istri dan ketiga anaknya. Kalau suaminya jarang lihat,”ungkapnya.

Warga merasa resah dua bulan belakangan ini lantaran rumah pelaku berlantai dua kerap didatangi para jamaah yang menjadi korban.

Komentar

komentar