Warga Aceh Tetap Bantu Pengungsi Rohingya Walau Dilarang Aparat

Pengungsi Rohingya
Wanita dan anak-anak Rohingya di penampungan sementara di Desa Matang Raya, Baktya, Aceh Utara

Depokpos – Paska porak poranda karena bencana tsunami beberapa waktu lalu, warga Aceh tahu betul bagaimana rasanya menderita, hidup dalam kondisi serba kekurangan dan tentu bagaimana rasanya ketika dunia berbondong-bondong memberikan bantuannya.

Hal inilah yang dipahami warga Aceh ketika melihat pengungsi asal Rohingya datang ketanah mereka, mereka berbondong-bondong menyambut dan memberikan apa saja yang  bisa mereka berikan kepada saudara-saudara dari tanah Rohingya.

Meski ada himbauan pihak aparat untuk tidak membantu pengungsi Rohingya, namun suara hati warga Aceh tak bisa ditahan untuk membantu saudaranya yang ditimpa kemalangan.

Sejak Jumat (15/05), warga Langsa terus berbondong-bondong mendatangi dan melihat dari dekat para imigran Rohingya (Myanmar) yang terdampar di perairan Aceh yang kini ditampung Pemerintah Kota Langsa  di Kompleks Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa.

BACA JUGA:  Bela Negara Jadi Rekomendasi Utama yang Dihasilkan Halaqoh Nasional

Tak hanya melihat dari dekat, warga juga membawa sejumlah bantuan, seperti pakaian layak pakai, beras, biskuit, air mineral. Di sebuah ruangan dekat dapur umum, terlihat tumpukan pakaian bekas. Para pengungsi memilah-pilah mana pakaian yang cocok untuk dikenakan.

Pakaian layak pakai ini merupakan sumbangan dari warga Langsa, yang sejak Jumat lalu terus berdatangan ke lokasi penampungan para imigran Rohingya dan Bangladesh.

Dikutip Aceh Kita, saat ini, Pemerintah Kota Langsa mulai membatasi interaksi warga dengan para imigran.  Petugas polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja berjaga-jaga di pintu masuk pelabuhan. Petugas tidak mengizinkan masuk warga yang tidak berkepentingan.

BACA JUGA:  Sosok Inspiratif di Momen Peringatan Sumpah Pemuda

“Kita membatasi karena untuk sterilisasi. Bukan menghalang-halangi warga yang ingin masuk ke kamp pengungsi,” ujar Muhammad Safrizal, koordinator media center posko pengungsian, Senin (18/5/2015) kemarin.

Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya penularan penyakit. Apalagi, para imigran diketahui menderita sejumlah penyakit seperti batuk dan diare.

“Kita berjaga-jaga untuk menghindari penyakit menular. Siapa tahu di antara pengungsi imigran ini ada penyakit menular. Jadi ini untuk kebaikan masyarakat sendiri,” lanjut Safrizal dikutip Aceh Kita.

Hayaturrahman, 35 tahun, warga Kota Langsa, bersama tiga temannya datang ke Kuala Langsa dengan membawa bantuan berupa pakaian layak pakai, jilbab, sarung, handuk, baju anak-anak, roti, dan susu kotak.

BACA JUGA:  1.550 Pramuka Putri se-Indonesia Ikuti Perkemahan Nasional Pertengahan November

“Saya tergerak untuk membantu. Mereka adalah saudara saya,” kata Hayaturrahmah.

Ia prihatin dan terharu mendengar cerita perjuangan para imigran memperjuangkan hidup. “Melihat mereka memperjuangkan hidup dna mencari perlindungan, rasanya kita akan memberi apa saja yang kita bisa beri. Kita akan membantu apa yang bisa dibantu sebagai sesama manusia yang punya nurani,” ujar Hayaturrahmah.

Data sementara, penampungan Kuala Langsa menampung 678 para imigran. Petugas Imigrasi Langsa masih melakukan pendataan terhadap para imigran. (mi/hidayatullah)

Komentar

komentar