Ombudsman RI Lakukan Sidak ke SMPN 8 Depok

Depokpos, Cimanggis – Kamis (7/5) Ombudsman Republik Indonesia (RI) menggelar sidak ke SMPN 8 Depok yang berlokasi di Komplek Timah, Cimanggis, Depok dalam rangka menindaklanjuti dugaan pungutan uang perpisahan sekolah sebesar Rp 1,5 juta per siswa.

Komisioner Ombudsman RI Hendra Nurtjahjo, mengatakan sekolah negeri seharusnya bebas dari pungutan – pungutan yang sifatnya memberatkan orangtua murid. Apalagi, lanjutnya, pungutan tersebut ditengarai juga membuat siswa dibebani secara psikologis.

“Ditagih sebelum ujian berlangsung oleh Wali Kelas. Menagih Rp1,5 juta harus dilunasi dan bersifat menekan. Ini tak baik. termasuk belum adanya transparansi dan rincian untuk apa saja,” tegasnya kepada wartawan di SMPN 8 Depok, Kamis (7/5/2015).

BACA JUGA:  Peringati Tahun Baru Islam, Wali Kota Sumbang Rp100 Juta Untuk Palestina
Hendra Nurtjahyo
Komisioner Ombudsman RI Hendra Nurtjahjo

Ia mengatakan telah melakukan wawancara dengan para siswa yang menyatakan keberatan dengan pungutan sebesar itu. Apalagi, kata Hendra, pungutan tersebut juga tidak disertai dengan surat edaran.

Hendra menyebutkan adanya dugaan maladministrasi dalam kasus tersebut. Pihaknya pun langsung melakukan konfirmasi kasus itu ke Dinas Pendidikan Kota Depok.

“Kalau korupsi belum sampai kesitu, tetapi indikasi maladministrasi ada, karena tak dilakukan secara propper. Tak ada transparansi. Ada komitmen, dari kepala sekolah tadi siap kembalikan uang yang belum terpakai,” jelasnya.

Ia juga menhimbau bagi sekolah tidak perlu bermewah-mewah dalam melakukan perpisahan, cukup sederhana saja.

BACA JUGA:  Penggantian Antar Waktu (PAW), Rudi Setiawan Dilantik Jadi Anggota DPRD Kota Depok

“Perpisahan sekolah tentu harus ada bagi siswa, tapi tidak perlu mewah-mewah cukup sederhana dan komite itu kumpulan orang – orang dengan finansial yang kuat sebenarnya sudah cukup memberikan solusi,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 8 Depok,Tatag Hadi Sunoto, mengatakan bahwa pungutan tersebut bukan bersifat paksaan hanya sukarela dan diambil melalui tabungan siswa. Namun ia juga membenarkan saat dirinci jumlahnya Rp 1,5 juta.

“Sifatnya bukan pungutan, bukan bayaran. Buku tabungan khusus untuk mengumpulkan tabungan perpisahan, try out, dan pendalaman materi sejumlah Rp 1,5 juta. Disepakati oleh orangtua kok,” dalihnya.

BACA JUGA:  Penggantian Antar Waktu (PAW), Rudi Setiawan Dilantik Jadi Anggota DPRD Kota Depok

Tatag juga beralasan bahwa pihak sekolah hingga saat ini belum memutuskan kota tujuan untuk acara perpisahan tersebut. Hanya saja, kata dia, sejumlah uang tabungan yang disetorkan siswa sudah terpakai untuk biaya Pendalaman Materi dan Try Out jelang UN.

“Tentu jika tidak usah ada acara perpisahan ataupun bikin buku tahunan maka sisa uang akan dikembalikan dan memang masih di buku tabungan siswa. Tapi yang sudah terlanjur terpakai atau biaya yang keluar untuk PM, try out atau zikir dan motivasi UI tentu tak bisa,” jelasnya. (mi)

Komentar

komentar