Deklarasi KNSR Aceh, Konkretkan Penyelamatan Rohingya Jangka Panjang

KNSR

Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) mendeklarasikan KNSR Aceh Wilayah Kota Langsa, Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

Acara Deklarasi berlangsung di Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, 21 Mei 2015, yang merupakan lokasi penampungan 677 pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang diselamatkan nelayan Kota Langsa. Hadir dalam deklarasi tersebut Presiden KNSR Syuhelmaidi Syukur, Koordinator KNSR Kota Langsa Aidil Fan, Koordinator KNSR Aceh Tamiang Musthofa, Koordinator KNSR Aceh Timur Mulyadi, Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Langsa Mursyidin, dan Mohamad Adenan wakil nelayan penolong pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di pantai Kota Langsa.

Syuhelmaidi Syukur mengatakan, memburuknya perlakuan Myanmar: pemerintah, ekstrimis Budha, bahkan tentu saja sebagai sebuah negara, terhadap etnis Rohingya, memaksa rakyat Indonesia bersikap.

Deklarasi KNSR di Kota Langsa sebagai tindak lanjut pasca Deklarasi Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) dideklarasikan di Jakarta atas inisiasi ACT Foundation, 19 Mei 2015.

Lebih jauh Syuhel mengatakan Myanmar “tak tersentuh hukum internasional” setelah merepotkan negara-negara tetangganya. Ia  sukses memperlihatkan performanya sebagai negara pelindung gerakan anti-Muslim. Ashin Wirathu, biksu Myanmar yang menyuarakan kebenciannya terhadap Muslim Rohingya, tetap segar-bugar  di Myanmar tanpa ada kekuatan hukum Myanmar yang menjamahnya meskipun ia sebut Muslim Rohingya sebagai “anjing gila” yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak.  Fakta tak terbantah, pemerintah, para biksu dan masyarakat Myanmar satu pikiran: Myanmar harus bersih dari Muslim Rohingya. Tak ada yang salah, dengan tindakan menghabisi dan mengusir Muslim Rohingya dari Myanmar.

Terjadi anomali  akut di kawasan ASEAN. Hubungan diplomatik negara-negara anggota ASEAN, adem-adem saja.  KTT ASEAN ke 25 tetap berlangsung di Nay Pyi Taw, Myanmar, 12 November 2014 lalu. Artinya, penghabisan dan pengeyahan beratus ribu Muslim Rohingya yang terus-menerus dari Myanmar,  tidak menjadi sesuatu yang mengusik hati nurani para pemimpin negara ASEAN.

BACA JUGA:  RS Baznas Parimo Rampung, Siap Diresmikan Presiden Jokowi

Sebelumnya, Presiden SBY juga ke Myanmar menandatangani sejumlah  Memorandum of Understanding, pada 23-24 April 2013, sebagai tindak lanjut kunjungan Menko Bidang Perekonomian saat itu, Hatta Rajasa. Indonesia nyaman saja berinvestasi dengan Myanmar. Saat jutaan Muslim Rohingya dibantai, diusir, berlarian ke laut, entah berapa ratus atau ribu orang tewas dan jasadnya dibuang ke lautan.

“Saat itu (sejak 2012) ACT Foundation saja sampai tujuh kali mengirim Tim Kemanusiaan untuk menyantuni para pengungsi Muslim Rohingya. Kami – ACT Foundation – bisa berkali-kali mengirim Tim bukan karena kami hebat dan mampu, tapi karena gelombang pengungsian terus terjadi, dunia terus menyuarakannya dan masyarakat Indonesia juga terus-menerus memberi dukungan sehingga kami bisa memiliki cukup energi untuk membantu, meski tak mampu benar-benar memotong akar penyebab gelombang pembersihan etnis Rohingya itu,” ungkap Syuhelmaidi Syukur, Presiden Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya, yang diberi mandat saat deklarasi KNSR di Jakarta, 19/5 lalu.

Begitu banyak lembaga kemanusiaan dunia bergerak mengirim bantuan, tanpa diikuti langkah signifikan para pemimpin ASEAN untuk menghentikan pembantaian, pengusiran dan tentu saja penghapusan hak Muslim Myanmar. Kematian dan pengusiran massif etnis Rohingya dari Myanmar berjalan bertahun-tahun tanpa upaya konkret ASEAN menghentikannya.

“ACT Foundation hadir sedikit membantu eksodus Myanmar di Cox Bazaar dan Kutopalong di Bangladesh,  tanpa punya daya ketika tiga lembaga kemanusiaan internasional yang beberapa tahun menyantuni pencari suaka dari Myanmar, diusir Pemerintah Bangladesh dengan dalih pemberian bantuan mereka bisa mengundang gelombang pengungsian ke Bangladesh,” papar Syuhelmaidi.

BACA JUGA:  Bantu Rohingya, Misi Kemanusiaan MuhammadiyahAid Berangkat ke Bangladesh

KNSR tidak ingin ada jalan bersimpang antara pegiat kemanusiaan di Indonesia dengan sikap Pemerintah Indonesia. Terjadinya gelombang manusia perahu, membuka mata dan hati dunia. Dunia memandang Indonesia. Negeri nerpenduduk Muslim terbesar di ASEAN ini, naïf jika tidak memberi pertolongan konkret dan substantif bagi Muslim Rohingya.

Dalam gebalau manusia perahu di kawasan ASEAN, muncul orkestrasi indah masyarakat sipilnya. Heroisme nelayan Aceh menjemput manusia perahu langsung di lautan, menjadi inspirasi yang mendunia. Nelayan, kaum kecil yang hidup subsisten, menyisihkan kesempatannya melaut demi menyelamatkan Muslim Rohingya. Di pantai Seneuddon (Aceh Utara) beratus orang, lalu di Kuala Langsa (Aceh), pun di Kuala Geuleumpang, Julok, Aceh Timur. Mohamad Adenan misalnya, salah satu nelayan yang melaut di perairan Kuala Langsa, bersama sejumlah nelayan lainnya, ikut menolong pencari suaka etnis Rohingya ini.

“Saya membayangkan, seandainya apa yang terjadi pada mereka terjadiula pada kita, kita akan membutuhkan pertolongan dari siapapun,” ujar Adenan (48), warga Gampong Kuala, yang membawa perahu terakhir dari tujuh perahu nelayan saat menyelamatkan puluhan Muslim Rohingya di perairan Kuala Langsa.

Ya, masyarakat sipil dunia pun terpesona, dan bergegas bersinergi. Semua menaruh harapan pada masyarakat sipil Indonesia yang sudah dikenal humanis di dunia melalui kerja-kerja kemanusiaan di krisis kemanusiaan Palestina, Somalia, Suriah, badai Haiyan di Filipina, dan banyak lagi.

BACA JUGA:  Pemuncak Sayembara Cerpen dan Puisi Rakyat Sumbar Tingkat Nasional 2017 Diumumkan

KNSR dideklarasikan di Aceh, menjadi wahana bersatu membela Muslim Rohingya. KNSR di tengah banyak lembaga yang memperjuangkan Rohingya, memiklih dua peran: advokasi dan diplomasi. Advokasi menempuh jalur formal dan nonformal, melalyi serangkaian program sehingga hak-hak Muslim Rohingya bisa pulih. Diplomasi merupakan langkah mendekati otoritas pemerintahan terkait agar menjadikan Muslim Rohingya sebagai manusia, subyek kemanusiaan yang memperoleh hak hidup di negeri ini, sembari ikut membangun kesadaran kemanusiaan pemerintah Myanmar mengembalikan hak-hak Muslim Rohingya.

KNSR berikhtiar untuk tidak membiarkan Muslim Rohingya menjadi obyek belas-kasihan siapapun. Memanusiakan Muslim Rohingya, menebus kejahatan kemanusiaan atas pembiaran kezaliman atas mereka selama ini.  Kita sudah dengar banyak masyarakat Indonesia ingin mengadopsi anak-anak Rohingya. Kabar akan datangnya Angkatan Laut Turki menolong Rohingya yang kini ada di wilayah RI, seharusnya memberi semangat hebat pemerintah RI untuk berbuat lebih baik, karena kita negara besar sekaligus humanis. Kalau rakyatnya humanis, tak elok pemerintahnya tidak mengimbangi humanisnya rakyat Indonesia.

Sementara itu Musthofa Koordinator KNSR Aceh Tamiang mengatakan karakter penolong sudah mendarahdaging dalam jiwa masyarakat Aceh. “ Masyarakat Aceh menjadi saudara seluruh Bangsa Indonesia, yang membantu secara ikhlas demi merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia,” ujar Musthofa.

Sementara itu, Kadinsos Kota Langsa Mursyidin menyatakan dukungan bagi kebersamaan dan upaya mendorong semua pihak membantu aspek-aspek kemanusiaan yang dibutuhkan oleh Rohingya dan Bangladesh.

——————-
Kontak:
Syuhelmaidi Syukur, Presiden KNSR, 0811-1164-74)
Aidil Fan, Koordinator KNSR Kota Langsa, 0813-6203-6600
Musthofa, Koordinator KNSR Aceh Tamiang, 0811-6741-212
Mursyidin, Kadinsos Kota Langsa, 0811-6711-035

Sumber: act.id
Editor: mi

Komentar

komentar