Hikmah, Kisah Seorang Bernama Mujrim

Cerita ini disadur dari situs freeislamicapps.com. Terlepas apakah cerita ini nyata atau tidak, hikmah dari cerita ini layak kita ambil.

Alkisah ada seorang Arab Badui bernama Mujrim. Dalam bahasa Arab, mujrim berarti pelaku dosa atau kriminal. Ia datang ke masjid untuk melaksanakan shalat bersama imam dan berada di shaf pertama. Ketika itu surat yang dibaca imam adalah Surat Al-Mursalat, surat ke 77 dari Al-Qur’an.

Saat bacaan imam sampai pada ayat 16 أَلَمْ نُهْلِكِ الأوَّلِينَ (Bukankah kami telah membinasakan orang-orang yang dahulu?), Arab Badui tersebut berada di shaf terakhir. Kemudian setelah itu imam membaca ayat 17, ثُمَّ نُتْبِعُهُمُ الآخِرِينَ (Lalu Kami iringkan (azab Kami terhadap) mereka dengan (mengazab) orang-orang yang datang kemudian).

BACA JUGA:  Berbagi Nggak Ada Ruginya!

Mendengar ayat ini, badui lugu itu pindah ke shaf tengah.

Selanjutnya, sampai pada ayat 18 saat imam membaca كَذَلِكَ نَفْعَلُ بِالْمُجْرِمِينَ (Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa), ia langsung keluar meninggalkan shalat begitu saja sambil menggerutu, “Kok Aku disebut-sebut terus sih.” Dirinya berfikir kalau bacaan imam tadi terus mengarah kepadanya.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah ini:

  • Pentingnya memberi nama yang baik terhadap anak. Selain sebagai doa, juga dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya.
  • Tidak bisa sembarangan mengambil sebuah nama dari kata-kata dalam Al-Qur’an. Harus dilihat arti dari kata atau kalimat di dalamnya. Memang, nama itu bersumber dari Kitabullah. Tapi bisa jadi mengandung artian negatif. Sebagaimana nama Badui tadi – Mujrim.
  • Pentingnya mempelajari ilmu sebelum beramal. Agar benar dan tidak salah paham ketika mengamalkan suatu hal.
  • Belajar untuk berkhusnudzan atas persepsi orang terhadap diri kita.
BACA JUGA:  Bulan Muharram dan Keutamaannya

Editor: Fathiya

Komentar

komentar