Mengais Rizki di Usia 100 Tahun

IMAG0714_pllfioAhad pagi. Tentu saja, tak terelakkan lagi, di hari libur ini saya ditodong tagihan janji jalan-jalan oleh anak-anak tercinta. Maka meluncurlah dengan motor agak tua yang kondisinya sudah ngos-ngosan. Tapi lumayanlah, masih bisa diajak “hicking”, meskipun dengan rasa was-was ketika menanjaki tanjakan yang agak vertikal…
Ngeng.. ngeng… Motor melaju dari tempat parkiran kontrakan di daerah cimanglid dengan diiringi takbiran dari AA zakir dan teteh Nayla.

Awalnya cuma mau iseng sampai sekitar daerah curug nangka, sambil mau “borong” buah naga di perkebunan di sekitarnya, tapi qodarulloh masih belum panen, jadinya timbul inisiatif untuk melanjutkan perjalanan sampai ke daerah gunung malang, tempat AA Zakir dilahirkan. Mau lihat kondisi tempatnya seperti apa. Dan sesampainya di sana, ternyata alhamdulillah, meskipun jauh dari perkotaan, ternyata klinik bidannya sudah sangat bagus, modern. Tapi saya pun tidak sempat mampir, karena takut mengganggu. Maka, jauh dari rencana semula, keisengan pun berlanjut sampai memutuskan untuk mencapai perjalanan yang lebih tinggi lagi. Walhasil, jadilah rekreasi keluarga dadakan dilanjutkan sampai ke gunung halimun salak.

BACA JUGA:  Gaya Hidup Traveling di Indonesia Semakin Berkembang

Singkat cerita, sampailah ke pintu gerbang taman nasional gunung halimun salak. Petugas pun meminta 20ribu untuk dapat memasuki kawasan teraebut. Tak jauh dari pintu gerbang itu, saya pun langsung membelokkan motor ke arah perkemahan untuk sejenak istirahat, dan mengisi perut dengan makanan yang sempat dibeli di tengah perjalanan.

Subhanalloh, dengan dikelilingi pepohonan yang tinggi menjulang, dan sempilan-sempilan pemandangan kota yang jauh di bawah kaki, menjadikan suasana begitu nikmat untuk bersantap. Selesailah semua makanan terlahap. Kesyukutan pada Ilahi pun terpanjat.

Nah, tak berselang lama, dalam kondisi perut yang sudah lumayan full terisi, dan sedang menikmati pemandangan alam, tiba-tiba datang seorang ibu tua yang menawarkan beberapa makanan, seperti gorengan dan pop-mie yang bisa diseduh langsung dari air termos yang beliau bawa.

Subhanalloh, seketika, suasana hati gembira menjadi iba. Sedih melihat kondisi seorang ibu yang sudah sangat tua, dengan sepenggal nafas dan punggung yang tak lagi tertegak lurus masih harus bersipayah mencari rizki.
Qodarulloh, maksud hati ingin berbincang, namun kondisi pendengaran beliau sudah tidak peka. Ketika bertanya pun, saya harus beberapa kali mengeraskan suara. Alhasil, saya hanya dapat mendengarkan penuturan beliau yang ternyata sudah berusia 100 tahun. Dari generasinya yang tinggal di daerah tersebut hanya tinggal beliau dan seorang kakaknya yang katanya kondisinya sudah mengkhawatirkan.

BACA JUGA:  Gaya Hidup Traveling di Indonesia Semakin Berkembang

Suami beliau sudah tiada, tinggal 4 anaknya yang masih ada. Sehari-hari beliau berjualan. Berharap dari orang-orang yang berkemah membeli dagangannya. Entah apa dagangan itu pun milik beliau? Namun sepertinya bukan. Mungkin beliau hanya menjualkan milik seseorang.

Meski perut sudah tak lagi menghajat makanan, saya pun memesan 1 pop mie yang diniatkan untuk menyenangkan hatinya. Beliaupun kemudian banyak bercerita. tentang desanya yang asri, namun kemudian menjadi banyak penginapan. Tentang pepohonan di sekitar kami yang hampir seumuran dengan usianya. Tentang bagaimana beliau harus melewati beberapa tanjakan atau bukit tinggi untuk menyambangi pelanggan. Dan kisah lainnya, yang sebagiannya banyak diulang. Tapi saya dan istri tetap mendengarnya, hingga sampai beberapa kian puluh menit berlalu, perjumpaan itu harus berakhir. Kami harus pulang dan beliau mungkin juga ingin menawarkan dagangan beliau pada yang lainnya.

BACA JUGA:  Gaya Hidup Traveling di Indonesia Semakin Berkembang

Sebelum berpisah, istri saya berinisiatif memberikan sedikit uang sebagai sedekah. Namun di luar dugaan, beliau ternyata menolaknya. beliau hanya ingin mendapat uang dari hasil dagangannya. Allohu akbar.
Sungguh pelajaran berharga yang kami dapatkan pada hari ini dari seorang ibu tua yang telah berusia 100 tahun. Dengan segala kondisi fisik yang beliau miliki, namun tak jua menjadikan beliau seorang yang ingin dikasihani. Beliau tetap berusaha sekuat tenaga untuk mengais rizki.

Semoga Alloh ta’la memberkahi usahanya dan mengampuni segala kesalahannya…

Ditulis oleh: admin cintaibudanayah.com
Sumber: cintaibudanayah.com
Redaksi: Muhammad Ihsan

Komentar

komentar